MANADO, 16 Juli 2025 — Bagi guru besar Universitas Negeri Manado (UNIMA), Prof Dr UM Kamajaya Al Katuuk MS, pahlawan nasional kelahiran 1 Desember 1872 di Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa utara (Minut) Maria Walanda Maramis (MWM) bukan hanya berprofesi sebagai ibu, istri semata, tetapi mampu mendorong pentingnya pendidikan bagi perempuan pada masa sebelum kemerdekaan RI
Ini dituturkan oleh pakar dalam bidang sastra dan sejarah, saat hadir sebagai salah pematik dalam Focus Group Discussion (FGD) pertama yang digelar Panitia HUT – 108 Percintaan Ibu kepada Anak Temurunnya (PIKAT), dan Badan Pimpinan Pusat PIKAT di Asrama PIKAT, Manado (15/7) kemarin. Dorongan inilah yang membuat MWM, menghadirkan amunisi nya menjawab pentingnya pendidikan pada perempuan, melalui pembentukan PIKAT pada 8 Juli 1917 lalu. Walau begitu, diungkap Al – Katuuk, PIKAT kini mulai kekurangan aksi dengan kepengurusan yang sepuh dan akibat pandemic lalu. “Jaman berubah maka alat berjuang kita harus berubah, salah satunya melakukan viral melalui media massa dan media sosial. MWM selalu memiliki jalan keluar dan solusi saat mendapatkan masalah,” ujarnya.

Sebelumnya sejarawan sekaligus penulis berbagai buku sejarah gereja, termasuk buku Maria Walanda Maramis “Jangan Lupakan PIKAT Anak Bungsuku”, Dr Ivan Kaunang SS MHum mengusulkan beberapa usulan mendorong PIKAT kembali hadir bagi generasi muda yang mulai terkikis pengetahuannya tetang organisasi perempuan kedua yang hadir di Indonesia dan diakui, seperti menghadirkan program kekinian tanpa meninggalkan ciri khas PIKAT seperti lomba-lomba dibidang seni juga olahraga, yang melibatkan perempuan-perempuan generasi muda, kemudian membuat website yang memuat informasi tentang PIKAT. “Sosialisasikan juga dengan poster khusus pahlawan perempuan untuk dibagikan ke sekolah-sekolah agar anak-anak bisa mewarisi semangat MWM,” tutur Kaunang yang juga Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).
Pematik ketiga, Gifliyani Krisna Nayoan MTh menjelaskan pentingnya perempuan kekinian untuk mendorong kemampuannya seperti yang dilakukan oleh MWM. Pengajar di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado ini melihat sosok MWM bukan hanya sekadar seorang perempuan hebat yang ingin keseteraan dalam pendidikan dan politik, tetapi disebutnya juga merupakan guru, misioneris, penulis dan jurnalis. “Saat ini, tantangan baru untuk PIKAT adalah mengatasi barrier dari diri sendiri, mengembangkan imajinasi, dengan cara melatih diri. Maria melatih diri bukan hanya bersuara, tapi bergerak dan berbuat,” urainya.

Sementara, praktisi perencanaan pembangunan daerah dan gender Drs Boaz Wilar MSi juga mendorong PIKAT saat ini, harus merevitalisasi program-programnya, dan memperkuat organisasi dengan melibatkan para generasi muda dan tidak melupakan teknologi serta media. Dr Natalia Lengkong SH MH juga ikut memberikan masukan, agar PIKAT bisa maju dan makin berkembang dengan menggandeng media massa dan membentuk media sosialnya sendiri. “Media massa penting, dan ini bisa jadi awal baik dalam perubahan. MWM bukan hanya sekadar pembentuk PIKAT, dirinya penulis, jurnalis dan pendorong hak perempuan Sulut untuk setara di politik,” tegasnya.
Usulan dan masukan para pematik ini mendapat respon positif dari para peserta yang terdiri dari para pengurus PIKAT, perwakilan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sulut, mahasiswa Unsrat dan IAKN Manado. “Ini tantangan besar bagi PIKAT, berbenah dan mengikuti tren harus diakui sebagai cara jitu untuk mendorong generasi muda tidak lupa MWM dan PIKAT. Serta menjadi organisasi perempuan Indonesia yang terbuka untuk generasi kekiniaan,” terang Lilly Danes STh yang hadir sebagai moderator. Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dari tahun 2020-2024, juga menyoroti minimnya keikutsertaan generasi Z di organisasi PIKAT saat ini yang memiliki 128 cabang di seluruh Indonesia. Diapun merekomedasikan pendalaman program yang dibangun di organisasi lewat PIKAT dengan melihat kejadian yang ada saat ini.

Sebelum menutup FGD ini, Ketua Umum BPP PIKAT Novia HA Lambey SS memastikan akan melakukan perubahan positif pada organisasi. Dimulai pada pelantikan beberapa cabang di daerah, saya akan memastikan para pengurus nantinya akan menghadirkan 60% seniors citizen dan 40% anak muda 20-50 tahun. Dan masukan FGD ini akan menjadi tonggak untuk melakukan yang terbaik pada anak bungsu Ibu kita,” ungkap mantan diplomat ini, serta menyebut akan adanya FGD II untuk pendalaman program PIKAT, dengan menggandeng perguruan tinggi dan pemerintah.
Akhir FGD ini sendiri ditutup dengan pemberian buku Maria Walanda Maramis “Jangan Lupakan PIKAT Anak Bungsuku” pada para pematik dan peserta. “Kami berharap hasil FGD ini bisa memberikan cakrawala baru dan kami juga meminta dukungan untuk persiapan HUT –108 PIKAT pada Agustus nanti, tambah Ketua Panitia HUT 108 PIKAT, Ir Greety Sumayku. (Aubrey Sendow)





