JAKARTA, 21 JULI 2026 (ANTARA) – Analis dari Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah melemah seiring antisipasi pelaku pasar jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
“Pelaku pasar masih hati2 mengantisipasi hasil RDG BI yang kemungkinan akan menaikkan bunga acuan menjadi 6 persen,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa. Namun, nilai tukar rupiah pada Selasa pagi bergerak menguat tipis 11 poin atau 0,06 persen menjadi Rp17.937 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.948 per dolar AS.
Sebagai catatan, kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei 2026 menjadi penyesuaian pertama setelah bunga acuan berada pada level 4,75 persen sejak September 2025. Namun, rupiah masih terus melemah hingga sempat menembus level Rp18 ribu per dolar AS pada awal Juni.
Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps. Sejak keputusan tersebut, rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah level Rp18 ribu per dolar AS.
Pada RDG Bulanan 18 Juni 2026, BI juga melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dengan kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Selanjutnya, BI dijadwalkan kembali menggelar RDG Bulanan pada 21-22 Juli 2026. “Kenaikan suku bunga oleh BI masih diperlukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan menstabilkan rupiah,” kata Rully.
Di samping itu, potensi pelemahan rupiah masih dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik antara Iran dengan AS yang mengakibatkan kenaikan harga minyak dan penguatan indeks dolar AS. “Harga minyak WTI (West Texas Intermediate) bertahan di 82,6 (dolar AS per barel) sementara Brent 89,2 (dolar AS per barel) dan index dollar naik menjadi 100,94,” ungkap dia.
Pewarta : M Baqir Idrus Alatas
Editor : Evi Ratnawati




