MANADO, 8 SEPTEMBER 2026 – Komoditas pertanian yang kini menjadi penyumbang inflasi daerah, cabai rawit mencapai harga Rp150.000/kg.
Untuk itu Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow utara (Boltara) Sirajudin Lasena membutuhkan dukungan semua pihak dalam pengendalian nya kedepan.
Ini diungkapnya dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), dan dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolatara bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi utara dan Gorontalo(Sulutgo) siang tadi.
Bupati Lasena mengungkapkan, kenaikan harga komoditas pangan ini juga didorong oleh tingginya konsumsi lokal selama perayaan Maulid Nabi di desa-desa sepanjang satu bulan terakhir. Di samping itu, sebagian besar pasokan cabai di pasar lokal masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Petani cabai kami di Sangkub belum sepenuhnya menikmati tren harga ini karena cabai dari luar Bolmut banyak masuk. Saat ini, kita baru memiliki dua petani cabai di Bintauna yang menanam sekitar 10 ribu bibit pohon cabai,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, Pemkab Bolmut melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat kembali gerakan menanam pekarangan yang sempat terbukti efektif. Pada akhir 2025 hingga awal 2026 lalu, gerakan menanam berhasil menekan harga cabai di bawah Rp50.000 per kilogram lantaran masyarakat memanen langsung dari halaman rumah masing-masing.
Bupati menegaskan pentingnya pengawasan konsisten agar gerakan swasembada pangan rumah tangga ini tidak bersifat musiman. Jika tidak dikawal, partisipasi warga dinilai kerap memudar setelah satu hingga dua bulan berjalan. Guna menjaga ketersediaan pasokan, pemerintah daerah juga telah memulai penanaman perdana cabai di wilayah Sangkub. (gracey wakary)






