JAKARTA, 6 OKTOBER 2026 (ANTARA) – Dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K) menyampaikan perlunya skrining defisiensi besi pada remaja putri setelah mengalami menstruasi pertama.
“Remaja putri itu selain dia juga mengalami kecepatan tumbuh, juga ada faktor menstruasi, yang nanti kita harus nilai, harus evaluasi. Kalau terlalu banyak atau terlalu lama, itu lama-kelamaan juga akan menjadi penyakit defisiensi besi,” katanya dalam seminar daring IDAI di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, pemeriksaan defisiensi besi penting untuk mendeteksi dan mencegah masalah-masalah akibat kekurangan zat besi, yang bisa berlanjut sampai remaja mencapai usia dewasa dan hamil. “Kalau ibu hamil defisiensi besi itu juga akan berpengaruh pada bayinya, berpengaruh pada proses kelahirannya,” katanya.
Upaya pencegahan defisiensi zat besi, menurut dia, perlu dilakukan secara berkesinambungan mulai dari masa remaja, masa kehamilan, sampai periode awal kehidupan anaknya. “Kalau kita tarik ke belakang sebelum kita hanya bekerja untuk bayi, tetapi harusnya dari mulai remaja putri kita sudah persiapkan, karena dia tidak boleh mengalami defisiensi besi,” katanya.
Dokter Murti mengemukakan perlunya mengenali tanda kekurangan zat besi pada remaja putri sejak dini.Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, kekurangan zat besi adalah kondisi yang terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk memproduksi hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang mengikat dan mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Gejala defisiensi besi bisa berupa kelelahan dan kelemahan, kulit dan bagian bawah mata tampak pucat, denyut jantung cepat atau tidak teratur, kesulitan berkonsentrasi, nyeri kepala, rambut rontok, dan kuku rapuh. Dokter Murti menyampaikan pula bahwa defisiensi besi dapat terjadi sebelum kadar hemoglobin (Hb) turun sehingga menyebabkan anemia.
Dalam kondisi yang demikian, anak perempuan atau remaja bisa terlihat sehat dan aktif meskipun cadangan zat besi dalam tubuhnya menurun. Dokter Murti menyampaikan, rekomendasi terbaru dari American Academy of Pediatrics (AAP) dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam upaya untuk mendeteksi tanda defisiensi besi para remaja putri.
AAP merekomendasikan skrining pada seluruh remaja putri setelah menstruasi pertama atau maksimal pada usia 14 tahun.Pemeriksaan yang direkomendasikan, menurut dr. Murti, mencakup pemeriksaan kadar Hb serta pemeriksaan serum feritin untuk mengetahui status cadangan zat besi.
Ia menyampaikan bahwa upaya pencegahan dan deteksi dini dapat membantu menekan kejadian defisiensi besi pada remaja putri. Jika tidak ditangani, kekurangan zat besi di antaranya bisa menyebabkan anemia defisiensi besi parah, masalah perkembangan kognitif dan fisik pada remaja, serta penurunan kekebalan tubuh.
Selain itu, defisiensi besi pada remaja putri bisa berlanjut sampai usia dewasa serta menimbulkan risiko kesehatan pada masa kehamilan dan mempengaruhi kesehatan anak yang dilahirkan.
Pewarta : Pamela Sakina
Editor : Maryati






