Peneliti Unsrat sebut Sektor Pertanian di Sulut Kurang Diminati karena Kurang Gengsi

Dr Ir Theodora Mauliana Katiandagho MSi sebagai pembicara dalam Rapat Kordinasi Daerah Diseminasi Data Sensus Pertanian 2023, yang digelar oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, pagi tadi di The Sentra.

MANADO, 7 DESEMBER 2023 – Sektor pertanian, merupakan sektor unggulan di Sulawesi Utara (Sulut), yang mampu menjaga ekonomi Nyiur melambai tetap stabil, saat Covid –19  melanda.

 

Bacaan Lainnya

Namun, sektor ini makin terlupakan oleh para generasi milenial dan kekinian karena dianggap sebagai lapangan pekerjaan yang tidak terlalu bergengsi. “Dari yang kami temui di dunia pendidikan, banyak mahasiswa lulusan S1  pertanian, namun memilih untuk tidak masuk ke sektor pertanian, mereka menganggap petani adalah pekerjaan yang kurang bergensi,” tutur dosen Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Dr Ir Theodora Mauliana Katiandagho MSi sebagai pembicara dalam Rapat Kordinasi Daerah Diseminasi Data Sensus Pertanian 2023, yang digelar oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, pagi tadi di The Sentra.

Baca juga  Medali Emas Tim PKM Krisan Antar Unsrat Masuk 10 Besar di Ajang Pimnas ke –36

 

Menurut Koordinator Program Studi Agribisnis Faperta Unsrat, dari 100 wisudawan dan wisudawati asal Fakultas Pertanian Unsrat, hanya ada satu yang memilih bekarir sebagai petani. Padahal sektor pertanian membutuhkan regenerasi dan menjadi bagian penerapan keilmuan pada para pertani lainnya. Ini bukan tanpa alasan, Theodora menerangkan, hingga kini banyak petani Sulut yang masih menggunakan pupuk tanaman dari bahan bahan kimia yang mahal dan sulit temukan. “Kini, ada beragam cara bertani yang lebih terjangkau  tidak merusak lingkungan dan membahayakan kesehatan serta bisa dilakukan, dan ini semua kami ajarkan pada para mahasiswa kami,” sebutnya sambil menyebut pupuk pestisida sebenarnya telah lama ditinggalkan karena daya rusak pada lingkungan sekitarnya.

 

Baca juga  Lazada buat LazzieChat, chatbot berbasis ChatGPT

Penjelasan dosen Unsrat ini, sama dengan hasil sensus pertanian 2023 yang dilakukan oleh BPS Sulut, dimana jumlah petani milenial yang berumur 19–39 tahun hanya sebanyak 48.687 orang, atau sekitar 18,93 persen dari petani di Sulawesi Utara. Sementara dalam ST2023, selang 10 tahun (dekade) 2013, jumlah unit usaha pertanian mengalami penurunan sebesar 6,64%, dimana data pada ST2013 lalu ada sebanyak 290.904 unit usaha, kini di ST2023 turun menjadi 271.585 unit usaha pertanian. Ini diterangkan oleh Statistik madya BPS Sulut, Norma Regar, dimana terlihat di jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) sebanyak 271.269 unit, turun 6,65 persen dari tahun 2013 yang sebanyak 290.588 unit. Begitu juga dengan jumlah Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum (UPB) sebanyak 37 perusahaan, turun 26,00 persen dari tahun 2013 yang sebanyak 50 unit.(graceywakary)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *