Mahasiswa Arsitektur Unsrat Pelajari Keunikan Struktur Bangunan Kolonial di Tondano

Para mahasiswa Unsrat yang melakukan kunjungan pada bangunan kolonial yang ada di Tondano belum lama ini.

MANADO, 19 MEI 2026 — Sebanyak 16 mahasiswa mahasiswa jurusan Arsitektur dari Fakultas Teknik (Fatek) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, belum lama ini menggelar kunjungan lapangan (fieldtrip), ke salah satu bangunan bersejarah di Nyiur melambai yang ada di Kabupaten Minahasa.

 

Bacaan Lainnya

Kunjungan ini dilakukan langsung di Kantor Wilayah  Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) di Tondano, pada Kamis (14/5) lalu. Pada MANADONES, dosen pendamping kegiatan ini  Cynthia E. V Wuisang, ST,M.Urb.Hab.Mgt., PhD mengungkap kegiatan ini dilakukan dalam rangka pendalaman materi mata kuliah Sejarah dan Preseden Arsitektur.

Baca juga  Enam Kepala Daerah Terpilih Wakili Agama dalam Pelantikan di Istana

 

Dimana objek yang menjadi fokus studi para mahasiswa adalah bangunan peninggalan masa penginjilan abad ke-19 yang dahulunya berfungsi sebagai rumah tinggal sekaligus kantor dari misionaris asal Jerman, Johann Friedrich Riedel. Berdasarkan catatan sejarah, Pdt. Riedel pertama kali tiba di Minahasa pada 12 Juni 1831. Sebelum menetap dan bertugas di Tondano, ia sempat tinggal selama beberapa bulan di Manado untuk mempelajari bahasa lokal setempat. “Bangunan berciri kolonial yang kami kunjungi memiliki nilai historis dan arsitektur yang sangat tinggi, terutama pada tata ruang dan struktur fasadnya,” kata dosen yang juga menjadi salah satu penulis dari buku unggulan Bank Indonesia (BI).

 

“Bangunan ini sangat unik karena memiliki jumlah pintu yang tidak biasa. Pada setiap ruangan terdapat dua hingga tiga pintu akses. Selain itu, pada bagian ruang depan, sistem pintu dan jendelanya dibuat rangkap atau ganda,” ujarnya di sela-sela pengamatan lapangan.

Baca juga  Beli Honda di Circle Sync Fest Manado ada Cashback Rp1,6 Juta

 

Keunikan lain yang menarik perhatian para mahasiswa adalah keberadaan ruang pertemuan tersembunyi yang terletak di bagian loteng atau soldor. Ruangan atas tersebut didesain khusus dan hanya dapat diakses melalui satu tangga tertentu, mencerminkan tipologi arsitektur kolonial yang adaptif terhadap fungsi privasi dan keamanan pada zamannya.

 

Dia pun berharap fieldtrip ini, para mahasiswa Arsitektur Unsrat mampu mengamati langsung preseden arsitektur kolonial serta pentingnya pelestarian bangunan cagar budaya di Sulawesi Utara. (gracey wakary)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *