Akademisi Waspadai Fenomena ‘Ageisme’ Perpendek Umur Lansia

Ilustrasi- Sejumlah jamaah calon haji lanjut usia (lansia) asal Banda Aceh mengikuti tes kebugaran jasmani di kawasan Universitas Syiah Kuala (USK) Student Park, Banda Aceh, Aceh, Rabu (6/3/2024). (ANTARA FOTO/Khalis Surry/AWW.)

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

JAKARTA, 20 JUNI 2024 (ANTARA) – Dosen sekaligus Pengembang Pusat Kajian Pembangunan Keluarga dan Lanjut Usia Universitas Respati Indonesia Tri Sratmi mewaspadai fenomena ‘ageisme’ karena dapat memperpendek umur orang dengan lanjut usia (lansia).

 

Dalam webinar bertajuk “Lansia-Ku di Era Ageing Population” yang diselenggarakan oleh BRIN di Jakarta, Rabu, ia menerangkan bahwa fenomena ageisme merupakan pemberian persepsi negatif, stigma, labelisasi hingga diskriminasi terhadap para lansia karena kondisi usianya. “Jangan-jangan, kita telah ikut melanggengkan fenomena ageisme, yakni cepat memberikan persepsi negatif terhadap orang lanjut usia sehingga fenomena ini harus diwaspadai karena berdampak buruk terhadap kesehatan lansia,” jelasnya. Beberapa contoh fenomena ageisme ialah anggapan para lansia memiliki kebiasaan jalan lebih lambat dibandingkan anak muda, para lansia dianggap tidak lagi cekatan untuk bekerja formal, atau memberi upah tidak layak kepada pekerja lansia karena dianggap tidak setara performanya dengan pekerja usia produktif.

Baca juga  Polri Fokus Beri Pertolongan Warga Terdampak Gempa di Papua

 

Adapun bahayanya, hasil studi pustakanya menyimpulkan individu yang memiliki sikap negatif terhadap proses penuaan, baik karena pengaruh lingkungan maupun persepsi dirinya sendiri memiliki hidup 7.5 tahun lebih pendek dibandingkan mereka yang berpandangan positif terhadap penuaan. Bukan hanya itu, temuannya juga menyimpulkan para lansia yang menjadi korban ageisme terbukti memiliki tingkat stres kardiovaskular yang lebih tinggi serta penurunan tingkat efikasi diri dan produktivitas. Hal ini dikarenakan fenomena ageisme menyebabkan lansia terisolasi secara fisik maupun kejiwaan karena mengasumsikan keberadaannya menjadi beban masyarakat. Oleh karena itu, ia menyarankan perlu adanya rekonstruksi perilaku masyarakat untuk lebih beradab dan ramah terhadap lansia sekaligus penggiatan edukasi di semua tingkatan usia mengenai fenomena ageisme.

Baca juga  Mari Dukung dan Bantu Para Medik Covid-19 di Sulut

Oleh Hana Dewi Kinarina Kaban

Editor : Indra Gultom

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *