MANADO, 13 SEPTEMBER 2025 – Rupiah memiliki peran penting bagi masyarakat Indonesia, bukan hanya sekadar alat untuk bertransaksi semata, tetapi menjadi bukti bahwa negara hadir, dan melindungi masyarakat hingga di ujung negeri.
Inilah yang mendorong kehadiran dari program nasional tahunan dari Bank Indonesia (BI), Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB). Dan di Sulawesi utara (Sulut), program ini kembali digelar oleh Kantor Perwakilan (KPw) BI Provinsi Sulut, pada 19 Agustus 2025 lalu, dengan menggandeng TNI AL.
Kerja sama ini, melibatkan Kapal Republik Indonesia (KRI) Sampari bernomor lambung 628, untuk menjaga pendistribusian, pengamanan dan pengawalan pada uang Rupiah, yang menyasar masyarakat di lima pulau di Sulut, yaitu Pulau Kahakitang yang masuk sebagai bagian dari Kabupaten Kepulauan Sangihe, Pulau Nusa di Talaud, Pulau Marore di Sangihe, Pulau Karatung di Talaud dan Pulau Kabaruan juga di Talaud.

Pada MANADONES, Ketua Tim ERB 2025 Raja Alfredo Siregar menjelaskan program kali ini, KPw BI Sulut menurunkan 12 staf, dan membawa uang kartal Rupiah sebesar Rp5,07 miliar. Uang kartal yang dihadirkan adalah dalam bentuk pecahan lengkap mulai dari Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000 hingga uang logam, ke lima pulau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina, serta masuk sebagai di wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T).
Tidak hanya melakukan pendistribusian uang Rupiah layak edar, serta menarik uang Rupiah yang telah lusuh dan rusak, tim KPw BI Sulut juga melakukan sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya Cinta Paham dan Bangga (CBP) terhadap Rupiah, pada masyarakat dan anak anak sekolah dasar yang ada di lima pulau diatas.
“Pengalaman yang tidak akan saya lupakan adalah menjadi bagian dari ERB di lima pulau berbatasan langsung dengan negara Filipina. Ini pengalaman pertama juga bekerja di kapal rudal cepat andalan TNI AL, dan pengalaman ini membuat saya makin mencintai NKRI,” ujar Raja, yang kesehariannya menjabat sebagai Plt. Kepala Unit Kehumasan di KPw BI Sulut. Kehadiran ERB 2025 bersama TNI AL ungkapnya, mendapat sambutan hangat dari masyarakat di pulau pulau yang mereka datangi.

Lulusan Universitas Indonesia (UI) dari Fakultas Teknik Industri juga menyebut, masyarakat dan anak anak sekolah sudah menanti kedatangan Tim ERB 2025 dengan membawa uang kartal jenis kertas di tangan mereka, sejak speed boat dari KRI Sampari bernomor lambung 628, memasuki area pantai. “Itulah sebabnya sosialisasi CBP Rupiah, bukan hanya kampanye simbolik, tetapi juga upaya membangun rasa nasionalisme dalam kehidupan sehari hari melalui hal yang paling dekat dengan gaya hidup kita, yaitu transaksi keuangan menggunakan Rupiah. Dan kegiatan CBP Rupiah di pulau yang kami datangi selalu mendapat sambutan hangat,” kata Raja.
Kepala KPw BI Sulut, Joko Supratikto pada MANADONES menerangkan, arti strategis dari Rupiah mulai dari menjaga stabilitas ekonomi, mengendalikan inflasi, serta mendorong kesejahteraan masyarakat, khususnya yang ada di darah perbatasan. “Penguatan nilai CBP Rupiah menjadi sangat penting sebagai bentuk nyata dalam menjaga kedaulatan negara, mempertegas batas ekonomi nasional, serta mencegah penggunaan mata uang asing dalam transaksi harian. Rupiah ada di Ibu kota hingga wilayah 3T, di NKRI,” kata Joko Supratikto.
ERB sendiri disebut Joko, telah dihadirkan sejak tahun 2012, dimana BI dan TNI AL telah melaksanakan 127 kali kas keliling ke 655 pulau. Pada tahun ini, Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) secara nasional menargetkan 90 pulau di 18 provinsi. Selain itu, ERB bagian dari mewujudkan kesatuan moneter di seluruh wilayah Republik Indonesia, berdasarkan Penetapan Presiden No.27/1965 tanggal 13 Desember 1965 diterbitkan uang Rupiah baru sebagai alat pembayaran yang sah di seluruh wilayah Republik Indonesia, dan Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Rupiah wajib digunakan dalam setiap transaksi di wilayah NKRI.

“Di setiap lembar Rupiah yang dibawa, terselip pesan bahwa negara hadir, menghargai dan melindungi masyarakat di ujung negeri. Menggunakan Rupiah adalah wujud jati diri anak bangsa dari bangsa yang berdaulat,” ungkap mantan Direktur di Departemen Jasa Perbankan, Perizinan, dan Operasional Tresuri Bank Indonesia, sembari menegaskan kehadiran negara tidak hanya diwakili oleh bendera, dan bangunan pemerintahan tetapi juga melalui penggunaan dan pemahaman atas mata uang nasional. Peristiwa lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan pada 2002 lalu, adalah contoh minimnya penggunaan simbol- simbol kehadiran negara Indonesia, seperti Rupiah dalam aktivitas ekonomi masyarakat di dua pulau yang kini jadi bagian negara tetangga kita.
Untuk itu, dia meminta semua warga NKRI untuk selalu menghargai Rupiah, dengan mampu mengenali Rupiah melalui metode Dilihat, Diraba dan Diterawang, atau metode 3D. Serta mampu menjaga Rupiah dengan Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Disteples dan Jangan Dibasahi, atau metode 5J. ERB 2025 sebelumnya digelar pada Mei 2025 lalu dengan menyasar yaitu lima pulau di Sulut yang juga masuk kawasan 3T serta berbatasan langsung dengan Filipina yaitu Pulau Miangas, Kakarotan, Kawio, Kawaluso, dan Tagulandang, dengan dengan menggunakan KRI Pari – 849, untuk program yang dimulai pada 20 Mei 2025 hingga 26 Mei 2025 lalu. (gracey wakary)





