MANADO, 28 JUNI 2026 – Komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah tercatat masih menjadi sumber utama volatilitas (gejolak) harga di Kota Bitung sepanjang tahun 2026.
Sebaliknya, pasokan pangan pokok seperti beras medium, telur ayam, dan daging ayam ras terpantau relatif aman dan stabil. Ini terungkap dalam High Level Meeting (HLM) TPID Kota Bitung 2026 pada Jumat lalu (26/6). Menurut Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Joko Supratikto, fokus pengendalian inflasi ke depan harus digeser pada penguatan tata kelola rantai pasok hortikultura.
Dia kemudan mengurai solusinya, sejalan dengan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) 2026, BI mendorong sejumlah langkah taktis seperti:
- Early Warning System: Optimalisasi neraca pangan sebagai basis data pengambilan kebijakan cepat.
- Kerja Sama Antar Daerah (KAD): Memperluas jaringan pasokan dengan daerah penghasil.
- Efisiensi Distribusi: Memangkas jalur distribusi hortikultura agar harga di tingkat konsumen lebih terjangkau.
“Bank Indonesia siap all out mendukung pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), khususnya untuk komoditas beras medium, bawang merah, dan cabai rawit,” ujar Joko Supratikto.
Selain merumuskan strategi makro, HLM kali ini juga merekomendasikan penguatan peran Perusahaan Umum Daerah (Perumda) di Bitung untuk bertindak sebagai offtaker (penyerap) komoditas pangan dengan dukungan pembiayaan daerah. (gracey wakary)





