Demi Turunkan Stunting Pemkot Tomohon segera Optimalisasi Peran Nakes

Seminar tentang Tata Laksana Cegah Stunting Tenaga Kesehatan dalam Percepatan Penurunan Stunting Melalui Sistem Rujukan Berjenjang di Kota Tomohon, kemarin.

MANADO, 4 AGUSTUS 2022 – Dalam, data yang dikeluarkan oleh Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, menunjukkan prevalensi angka stunting di Sulawesi Utara (Sulut), berada di angka 21,6 persen, dan Kota Tomohon sendiri berada di angka 18,3 persen.

 

Bacaan Lainnya

Meski terbilang rendah, Pemerintah Kota Tomohon terus melakukan upaya terkait penurunan angka stunting terutama melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Tomohon beserta tenaga kesehatan (nakes). Ini disampaikan, Sekretaris Daerah Kota (Sekkot) Tomohon Edwin Roring SE ME pada Seminar tentang Tata Laksana Cegah Stunting Tenaga Kesehatan dalam Percepatan Penurunan Stunting Melalui Sistem Rujukan Berjenjang di Kota Tomohon. Dia menyebut, pemerintah hadir untuk memfasilitasi dengan skema-skema kegiatan bersama agar kekurangan gizi tidak terjadi lagi.

 

“Hasil seminar ini, adi titik tolak ukur kedepan, bagaimana aksi pemerintah Tomohon untuk bisa mencegah terjadinya stunting, dan berbagai kebijakan regulasi terus dilakukan secara maksimal oleh berbagai pihak, terutama Dinkes nya,” ujar Roring.

 

Tidak ketinggalan disampaikan juga oleh Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Tomohon, dr John Denny Lumopa MKes bahwa, beberapa masalah yang menjadi pemicu terjadinya stunting, diantaranya ibu hamil dengan kekurangan energi kronis, berat badan lahir rendah, asupan gizi tidak, dan sanitasi lingkungan yang buruk, hingga upaya intervensi berdasarkan determinan masalah stunting di Kota Tomohon, jelasnya.

Baca juga  Pasien Positif Covid-19 di Sulut Tembus 509 Warga

 

Untuk mengatasi itu, Dinkes Tomohon sebut Lumopa telah memiliki kegiatan unggulan seperti program gizi berupa perbaikan gizi remaja putri, dan calon pengantin serta perbaikan gizi pada 1000 HPK. “Kami juga melakukan pelayanan upaya gizi masyarakat berupa pemantauan pertumbuhan balita yang dilaksanakan di Posyandu, serta kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan,” terangnya.

 

Sementara itu, Satuan Tugas Perlindungan Anak PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Rachmat Sentika SpA, MARS menjelaskan bahwa, sistem rujukan pada kasus stunting harus dapat dilaksanakan, hingga ke rumah sakit yang akan menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM), yang kompeten untuk penanganan masalah gizi yang diakibatkan oleh penyakit atau  kondisi tertentu pada bayi secara  komprehensif.

 

“Perlu sinergitas, antara nakes dan fasilitas kesehatan (faskes), tingkat pertama untuk menemukan resiko stunting,” kata Rachmat, sembari menambahkan, jika dukungan fasilitas layanan kesehatan primer dalam surveilans gizi, deteksi dan penemuan kasus di masyarakat sangat dibutuhkan.

 

Dokter Spesialis Anak, dr Ronald Rompies SpA tidak ketinggalan menyampaikan, jika pemberian nutrisi pada bayi dan anak, terutama dalam 1000 HPK sangat penting untuk pertumbuhan, dan perkembangan anak yang optimal. “Nanti, bila ditemukan stunted, dari puskesmas akan langsung memberikan rujukan ke dokter spesialis anak di RSUD,” terang Rompies.

Baca juga  TIFF 2022 Tanda Bangkitnya Pariwisata Sulut

 

Ronald pun, mengungkap bahwa Intervensi spesifik dengan pemberian nutrisi yang optimal yaitu MPASI dengan kandungan protein hewani seperti telur, ikan, hati, dll disertai PKGK atau susu formula standar, atau PKMK susu khusus pada anak yang kekurangan gizi termasuk stunting sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan dan Surat Keputusan BPOM.

 

Kolaborasi multisektoral dengan sektor swasta pun terus dilakukan dalam upaya penurunan angka stunting yang merupakan tanggung jawab bersama, antara pemerintah selaku pemangku kebijakan dan tenaga medis sebagai pelaksana teknis sistem rujukan berjenjang dalam pencegahan stunting yang didukung peran mitra swasta.

 

Pembicara lainnya seperti dari Medical Science Director Danone Indonesia, Dr dr Ray W Basrowi MKK, ikut menyatakan, bahwa komitmen Danone Indonesia dalam rangka penurunan angka stunting akan terus dilakukan. Promosi pemberian ASI eksklusif bagi karyawan, mendukung berbagai macam riset tentang nutrisi pada anak-anak, program edukasi Tenaga Kesehatan Berkelanjutan, serta program pemberdayaan masyarakat dan komunitas.

 

“Tugas kami disini adalah mendekatkan sistem pelayanan dan akses dari semua jenis intervensi dan model-model yang telah sukses dilakukan di tempat lain,” tegas Ray, yang juga merupakan lulusan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, seperti dikutip MANADONES dalam rilis yang diterima pagi tadi. (graceywakary)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *