MANADO, 21 SEPTEMBER 2024 – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Sulawesi utara (Sulut), terus mendorong pertanian di Nyiur melambai menjadi sektor yang maju dan mampu menahan laju inflasi daerah.
Selain terus membagikan bantuan bibit cabai rawit, bawang merah, dan tomat, BI KPw Sulut juga memperkenalkan inovasi dalam praktik pertanian berkelanjutan, dengan meminimalisir ketergantungan pada pupuk kimia. Seperti yang dilakukan BI KPw Sulut pekan lalu pada para anggota kelompok tani cabai rawit Tumendang II dan Barokah, yang ada di Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, melalui bantuan teknis (Bantek), pelatihan pembuatan pupuk organik. Pelatihan ini, beda dari yang biasanya, karena diprioritaskan pada memanfaatkan larva lalat Black Soldier (BSF), atau maggot.

“Pelatihan ini bertujuan untuk membantu petani memproduksi pupuk organik yang lebih murah dan ramah lingkungan. Kami berharap petani dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, sekaligus membantu menjaga kesehatan lahan dan lingkungan,” tutur Kepala BI KPw Sulut, Andry Prasmuko didampingi Deputi BI KPw Sulut, Renold Asri dan Kepala Tim KPw BI Sulut Made Donny, usai melakukan panen perdana cabai rawit dan tomat di Kelompok Tani Tumendang II, Kelurahan Mahena, Kecamatan Tahuna, Kabupaten Sangihe, belum lama ini (19/9).
Dijelaskan Andry, kedua kelompok tani ini, telah menjadi pilot project budidaya pertanian hortikultura yang menjadi mitra BI dan Pemkab Sangihe, untuk program ketahanan pangan di Kabupaten Sangihe. Dia juga berharap pelatihan pembuatan pupuk organik bisa mendorong peningkatan panen, dan produksi cabai rawit dan tomat di Kabupaten Sangihe ini akan terus meningkat, serta dapat mendukung pengendalian inflasi daerah serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe, Franki Nantingkaseh yang ikut memberikan penjelasan dalam diskusi bersama para petani yang hadir. (graceywakary)




