PKM Polimdo Hadirkan Pelatihan Eco-Kitchen di Desa Wisata Tumaluntung

PKM Polimdo menyasar pada masyarakat yang ada di Desa Wisata Tumaluntung, dengan menghadirkan pelatihan pengolahan makanan lokal yang ramah lingkungan dengan inovasi baru, Eco-Kitchen, pada awal Agustus lalu.

MANADO, 2 SEPTEMBER 2025 – Inovasi ramah lingkungan, kembali dihadirkan oleh Politeknik Negeri Manado (Polimdo) pada masyarakat, melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

 

Bacaan Lainnya

Kali ini, PKM Polimdo menyasar pada masyarakat yang ada di Desa Wisata Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dengan menghadirkan pelatihan pengolahan makanan lokal yang ramah lingkungan dengan inovasi baru, Eco-Kitchen. Tim PKM Polimdo yang dipimpin Fonny EH Sangari SPd MSi, menjelaskan  pelatihan Eco-Kitchen menekankan penggunaan bahan pangan lokal, pengolahan yang minim limbah, serta pemanfaatan energi secara efisien.

 

Eco-Kitchen bukan hanya soal memasak, tetapi juga tentang masyarakat bisa mengembangkan potensi kuliner lokal menjadi daya tarik wisata yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan, ujar  Fonny, dikegiatan yang digelar awal Agustus lalu. Kegiatan PKM yang bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Asosiasi Desa Wisata (Asidewi),  diharapakan memiliki multiplier effect bagi masyarakat Tumaluntung. Mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengolah makanan tradisional secara modern dapat membuka peluang usaha kuliner kreatif yang mampu bersaing di pasar wisata.

Baca juga  Tingkatkan SDM Masyarakat Desa Wisata Bahowo Polimdo Gelar Pelatihan Selam

 

Kemudian tentanpendekatan ramah lingkungan yang diusung sejalan dengan tren global pariwisata berkelanjutan, dan keterlibatan aktif masyarakat setempat akan memperkuat sense of belonging terhadap potensi lokal, sekaligus menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan.

 

“Dengan hadirnya program Eco-Kitchen, Desa Wisata Tumaluntung diharapkan bisa menjadi pionir inovasi gastronomi hijau di Sulut. Karena disini masyarakat didorong untuk berkreasi dengan menekankan pengurangan limbah plastik, pemanfaatan bahan alami, dan pengolahan pangan yang ramah lingkungan,” tambah Prof Bet.

 

Dalam pelatihan ini, peserta dikenalkan pada berbagai teknik pengolahan makanan khas Minahasa, mulai dari rica-rica, dabu-dabu, aneka olahan pisang, kelapa, hingga umbi-umbian. Kemudian saat praktek memasak, peserta dipandu oleh Tim PKM Polimdo yang juga hadir sebagai instruktur pelatihan. Melalui konsep Eco-kitchen, Pendekatan ini memberi dua dampak strategis sekaligus. Yaitu dari sisi kuliner, menu tradisional Minahasa mendapatkan sentuhan baru yang menjadikannya lebih adaptif dengan tren gastronomi modern tanpa kehilangan identitas lokal.

Baca juga  Raih 11 Medali Polimdo Peringkat 18 di Porseni Politeknik ke--14

 

Kedua, dari sisi keberlanjutan, penerapan prinsip Eco-kitchen memperkenalkan pola konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab, selaras dengan agenda global sustainable tourism. Peserta pelatihan yang adalah warga Desa Tumaluntung juga berpeluang mengembangkan usaha kuliner yang memiliki nilai jual tinggi, baik untuk pasar lokal maupun wisatawan mancanegara. Pada akhirnya, konsep Eco-kitchen diharapkan menjadi model pengembangan kuliner berkelanjutan di Minut, yang mampu menggabungkan identitas budaya, nilai ekonomi, dan kepedulian lingkungan dalam satu sajian. (gracey wakary)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *