Waspadai “Mendadak Atlet”, Dokter Ingatkan Risiko Henti Jantung

Dokter jantung dan pembuluh darah dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar. (K) (kiri) dan Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Iwet Ramadhan (kiri ke-3) dalam konferensi pers Hari Jantung Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu (23/9/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

JAKARTA, 23 SEPTEMBER 2026 (ANTARA) – Ketua Panitia Hari Jantung Sedunia 2026 dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar. (K) mengingatkan masyarakat, khususnya kalangan usia produktif, agar mewaspadai fenomena “mendadak atlet” seiring meningkatnya tren olahraga intensitas tinggi tanpa diimbangi pemeriksaan kondisi fisik dan tekanan darah.

 

Rizky, yang juga dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), mengatakan antusiasme masyarakat mengikuti tren olahraga seperti lari jarak jauh hingga Hyrox sangat positif, namun kerap tidak dibarengi dengan pemahaman atas batas kemampuan tubuh.

 

“Banyak yang begitu memakai jersey, langsung merasa menjadi atlet mendadak dan tidak bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Olahraga itu yang penting niatnya untuk bergerak, bukan harus selalu berkompetisi,” kata Rizky dalam konferensi pers Hari Jantung Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu.

Baca juga  Liverpool Dipermalukan PSV Eindhoven 1 - 4 Anfield

 

Rizky menjelaskan, memaksakan diri berolahraga berat tanpa mengetahui riwayat kesehatan dapat memicu henti jantung mendadak di luar rumah sakit (out-of-hospital cardiac arrest atau OHCA), terutama jika seseorang memiliki faktor risiko tersembunyi seperti hipertensi atau gangguan irama jantung (atrial fibrilasi).

 

Senada dengan hal itu, Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Iwet Ramadhan menyoroti banyaknya pegiat olahraga high-impact yang abai terhadap pemeriksaan tensi dan skrining awal kardiovaskular. “Banyak yang berolahraga high-impact, semua lari, semua ikut Hyrox, tapi tidak memperhatikan tensinya dan tidak memperhatikan kesehatan jantungnya, sehingga akhirnya terjadi cardiac arrest,” ujar Iwet.

 

Guna mengikis stigma bahwa olahraga harus selalu ekstrem dan kompetitif, Perki bersama YJI akan menggelar ajang World Heart Day Run 2026 dengan rute 5 kilometer di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada 27 September mendatang.

 

Ajang lari tersebut dirancang dengan konsep non-kompetitif (non-competitive run) untuk mengedukasi publik bahwa aktivitas fisik bertujuan menyehatkan tubuh secara bertahap, bukan ajang adu cepat yang membahayakan keselamatan. Selain lari santai, rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia 2026 juga akan diisi dengan pelatihan massal Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau resusitasi jantung paru bagi masyarakat awam.

Baca juga  Dinkes Papua Apresiasi Dukungan Bank Dunia Dalam Penanganan Stunting

 

“Selama ini kalau ada orang pingsan atau henti jantung di lapangan, masyarakat kerap bingung dan hanya menepuk-nepuk atau mengangkat korban secara keliru. Padahal, penanganan BHD yang tepat dan cepat pada menit-menit awal sangat menentukan peluang keselamatan korban,” tutur Rizky.

 

Berdasarkan data medis, penyakit kardiovaskular menyerang kelompok lanjut usia, bahkan kian mengintai kelompok usia 20 hingga 45 tahun, dengan proporsi kasus tertinggi mencapai 80 persen pada laki-laki akibat kombinasi hipertensi tak terkontrol, kolesterol tinggi, serta kebiasaan merokok.

 

Masyarakat pun diimbau untuk rutin mengontrol tekanan darah dan memeriksakan diri secara berkala ke fasilitas kesehatan sebelum memutuskan mengambil porsi latihan fisik dengan beban intensitas tinggi.

 

Pewarta : Farika Nur Khotimah

Editor : Siti Zulaikha

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *