MANADO, 2 MEI 2022 – Dalam, data yang diterima oleh Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Sulawesi utara (Sulut), melalui Badan Pusat Statistik (BPS) diungkap bahwa lapangan usaha atau LU dari sektor pertanian tercatat 6,40% (yoy), menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,50% (yoy).
Ini, dikatakan Kepala BI KPw Sulut, Arbonas Hutabarat dalam Focus Group Discussion (FGD) BI KPw Sulut bersama Pemerintah Provinsi Sulut Tahun 2022, yang digelar di Ballroom Tondano BI KPw Sulut, pagi hingga siang tadi.
“Pertanian harus terus didorong maju dan terus tumbuh. Karena sektor ini menjadi sumber pertumbuhan ekonomi atau PE Sulut terbesar pada Triwulan I 2022 dengan andil 1,27%,” kata Arbonas, sembari menyebut Mari Jo Bakobong, mampu mendukung perekonomian Sulut saat pandemi awal pada 2020 hingga 2021 lalu.
Dia berharap, Pemprov Sulut terus getol mendukung dan mengkampanyekan pertanian sebagai sektor unggulan selain sektor lainnya. Tidak ketinggalan, analis BI ini meminta agar meminimalisir kegiatan penjualan hasil pertanian terutama jagung untuk keluar Sulut dalam keadaan bongkol jagung.
“Hanya karena alasan mesin pengering sebesar Rp25 juta membuat jagung Sulut masuk Gorontalo dan menjadi hasil pertanian mereka, dan menerima keuntungan berlipat,” sebutnya, sembari menyebut hasil pertanian setengah jadi ini juga sebenarnya merugikan petani, karena dihargai sangat rendah dibanding jagung yang telah dipipil dan dijemur dengan tingkat presentase airnya minim.
Pemprov Sulut, yang diwakili oleh Sekprov Praseno Hadi juga akan segera melakukan rapat dengan dinas terkait serta melaporkan hal ini pada Gubernur Sulut, agar kampanye pertanian dengan Mari jo Bakobong terus dijalankan. (graceywakary)





