Perempuan Sulut Diajak Viralkan Perdamaian untuk Cegah Radikalisme dan Terorisme

Kegiatan Perempuan Teladan, Optimis, dan Produktif (TOP), yang digagas oleh BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi utara (Sulut) dengan dukungan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Daerah (P3AD) Sulut, yang digelar kemarin.

MANADO, 28 JULI 2022 – Perempuan Sulawesi utara (Sulut), diajak untuk menjadi pelopor dalam pencegahan aksi radikalisme dan terorisme di lingkungan sekitarnya.

 

Bacaan Lainnya

Menurut, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, dalam paparan Kasubdit Data dan Pelaporan BNPT RI Chairil Anwar SH diungkap radikalisme, dan terorisme menjadi salah satu tantangan besar bagi keamanan masyarakat dan kedaulatan bangsa ini, dan perempuan sangat rentan dengan hal negative ini.

 

Perempuan disebut, memiliki peran strategis dalam membentengi keluarga dan masyarakat dari segala bentuk penyebaran dan ajakan kelompok radikal terorisme. Seorang Ibu bisa menjadi partner dialog anaknya. Sebagai seorang istri, perempuan bisa menjadi partner diskusi suaminya dalam berbagai hal, sebagai contoh dalam pemahaman ajaran agama. “Jika ini berjalan, maka aksi radikalisme dan terorisme jauh dari Indonesia,” tutur  Chairil Anwar.

 

Untuk itu, dia menyebut kegiatan Perempuan Teladan, Optimis, dan Produktif (TOP), yang digagas oleh BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi utara (Sulut) dengan dukungan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Daerah (P3AD) Sulut, yang digelar kemarin, perempuan diharapkan bisa menjadi filter awal / pendeteksi awal dari setiap kejanggalan yang ditemukan dalam keluarga masing – masing.

 

Baca juga  Empowering Indonesia Report 2024 Resmi Diluncurkan Indosat Ooredoo Hutchison
Ketua FKPT Sulut Max Togas SH mendampingi para pemateri dalam kegiatan ini (paling kiri).

“Perempuan, sebenarnya menjadi salah satu benteng dari pengaruh paham dan ideologi radikal yang saat ini juga mulai menyasar pada anak usia dini. Maka, diperlukan upaya penanaman nilai kebangsaan, wawasan keagamaan dan kearifan lokal dalam keluarga menjadi sangat efektif sebagai filter dalam menangkal penyebaran radikalisme terorisme,” katanya.

 

Tidak hanya itu saja, dalam kegiatan yang dihadir oleh sebagian besar komunitas perempuan dan ibu di Sulut ini, dia juga meminta agar perempuan dan para ibu selalu mawas diri agar tidak terperangkap masuk ke dalam jaringan pelaku ataupun menjadi korban atas aksi terorisme. “Proses penanggulangan terorisme tidak bisa dilaksanakan hanya oleh aparatur keamanan semata. Dibutuhkan, sinergi yang kuat antara aparatur keamanan dengan masyarakat tanpa terkecuali, karena bahaya terorisme menyasar tanpa memandang pangkat, jabatan, status sosial, suku, ras dan agama tertentu,” tegasnya.

 

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Hak dan Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulut, Everdien Kalesaran SE MSi yang hadir sebagai salah satu pemateri, mengupas tentang tentang tujuh faktor yang menyebabkan perempuan rentan dilibatkan dalam aksi terorisme yaitu pertama dalah budaya patriarki, kedua menyangkut faktor ekonomi, ketiga tentang faktor Sosial, yang keempat tentang adanya perbedaan pola pikir. Kelima, adanya doktrin dari keluarga dan lingkungan sekitar. Kemudian, keenam adalah keterbatasan mengakses informasi, dan ketujuh adalah perempuan memiliki perasaan yang sensitif dan emosi labil.

Baca juga  WPI: Peningkatan Literasi Perempuan Berdampak pada Kualitas SDM

 

Pemateri lainnya, yaitu seorang dosen dan peneliti vokasi dari Universitas Indonesia (UI), Mila Viendyasari SSos MSi mengajak para peserta yang hadir, mampu menjadi perempuan yang menjadi teladan dan mau berbagi dengan sesamanya tentag hal hal positif. Dia juga mengingatkan produktif seorang perempuan adalah mampu menghasilkan karya dan kreasi bagi sekitarya terutama pada keluarga.

 

Di kegiatan ini juga, Gubernur yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Sulut Asiano Gammy Kawaatu SE MSi juga mengungkap keterlibatan perempuan dalam aksi radikalisme dan terorisme di Indonesia sejak 2005 – 2021 lalu, mengalami peningkatan.

 

Untuk itu, jelas Gemmy diperlukan upaya pencegahan, khususnya melalui penguatan ketahanan keluarga sebagai unit terkecil dan pertahanan pertama dalam masyarakat, dia berharap kegiatan ini, mampu memberikan penguatan pada perempuan Sulut untuk tampil menangkal radikalisme dan terorisme.

 

Ketua FKPT Sulut, Max Togas SH pada MANADONES berharap kegiatan ini mendorong masyarakat khususnya para perempuan, untuk mengoptimalkan pemahamannya kepada keluarga dan lingkungan terdekat, sebagai daya cegah dan daya tangkal terhadap penyebarluasan paham radikalisme dan terorisme. “Pasalnya dari data BNPT terbaru mengungkap sebesar 78 persen kehadiran dan keterlibatan perempuan dalam aksi radikalisme dan terorisme di Indonesia, sementara pria sebesar 72 persen,” tambahnya didampingi Koordinator Humas FKPT Sulut, Aswin Lumintang. (graceywakary)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *