Di Hari Sastra Pengiat Sastra Minsel Ingatkan Pentingnya Penguatan Bahasa Daerah

MANADO, 5 JULI 2025 – Di era teknologi saat ini, semua dapat dipelajari dan dipahami dengan mudah, namun sastra sering menjadi bagian yang terbelakang untuk dicintai.

 

Bacaan Lainnya

Untuk itu pentingnya penguatan sastra daerah bagi para gen z, ini diungkapkan oleh penggiat sastra Minahasa selatan (Minsel) Iswan Sual saat hadir sebagai narasumber bersama lima sastrawan Sulut, dalam kegiatan memperingati Hari Sastra 2025 yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi utara (Sulut), pada 3 Juli kemarin di Manado. Pada kegiatan ini Sual memaparkan tentang pentingnya untuk mendorong kembali hadirnya sastra klasik Tontemboan Minahasa pada para generasi muda yang mencintai teknologi.

Baca juga  Bahasa Indonesia jadi Mata Kuliah Wajib di Universitas Sofia Bulgaria

 

“Saya pribadi musti ucap syukur kepada Apo Kasuruang Wangko atau Tuhan Yang Maha Esa  bisa bertemu dengan para sastrawan, pegiat sastra, pegiat literasi, pegiat teater dan komunitas-komunitas aktif se Sulut, ujar caretaker sekaligus pendiri Sanggar Tumondei Minahasa Selatan (STMS) ini. Menurutnya, saat ini bahasa daerah mulai terpinggirkan maka para pengggiat literasi budaya juga harus kerja keras untuk menekankan pentingnya kembali menguasai bahasa daerah, agar bisa mengakses pengetahuan tradisi yang berisi nilai-nilai luhur tinggi.

 

“Kepandaian tiada arti tanpa adab dari nilai luhur yang tinggi, yang sudah ada dalam budaya kita sejak lama,” jelas Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Dewan Musyawarah Pusat tersebut. Dia pun berharap pada peringatan hari sastra kemarin, bisa  menjadi ilham positif bagi semua yang hadir pada kegiatan ini, dalam mengarusutamakan upaya penggunaan Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional, yang juga wajib dibarengi dengan effort untuk menguasai bahasa daerah.

Baca juga  Pimpinan LAROMA Pimpin Doa Pembukaan Hari Kebudayaan di Yogyakarta

 

“Sebab banyak pengetahuan, dan insight yang berisi nilai-nilai luhur, etika moral serta teknologi tersimpan dalam bahasa daerah yang tak bisa diterjemahkan secara harafiah,” kata mantan anggota Teater Ungu Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado (UNIMA), dihadapan 85 peserta komunitas literasi dan pekerja sastra yang ada di Sulut. Nampak pada kegiatan ini Kepala Balai Bahasa Sulut Januar Pribadi, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XII Sri Sugiharta SS MPA. (gracey wakary)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *