MANADO, 21 SEPTEMBER 2026 — Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara (Sulut) kembali melancarkan langkah intervensi pasar, untuk menahan lonjakan harga cabai rawit.
Dengan dukungan penuh dari Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulut, Pemprov Sulut, dan Satgas Pangan Polda Sulut, sebanyak 2.500 kilogram yang terdiri dari 84 koli cabai rawit merah dari Probolinggo, Jawa Timur, pagi tadi resmi dipasok melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).
Pasokan cabai rawit asal Probolinggo tahap II ini menyasar lima titik pasar utama di empat kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK). Titik distribusi meliputi Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan di Manado, Pasar Airmadidi di Minahasa Utara, Pasar Amurang di Minahasa Selatan, serta Pasar 23 Maret di Kotamobagu.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut, Purwanto, saat ditemui di Pasar Bersehati menjelaskan bahwa intervensi lanjutan ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan pasokan setelah intervensi FDP Tahap I pada 14–15 September lalu belum sepenuhnya meredam gejolak harga, yang masih belum stabil. “Target kami harga konsumen maksimal Rp57.000/kg sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan Bapanas,” ujar Purwanto didampingi Tim TPID Sulut, Satgas Pangan Polda Sulut dan Pemkot Manado.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulut, Rahel Ruth Rotinsulu, yang turut hadir menegaskan, FDP Tahap II merupakan bentuk respons cepat TPID dalam merespons keterbatasan pasokan akibat tantangan cuaca ekstrem. Untuk memastikan intervensi berjalan efektif, Dinas Ketahanan Pangan mengawal langsung distribusi ke daerah, sementara Satgas Pangan Polda Sulut memantau harga di tingkat eceran guna mencegah lonjakan yang tidak wajar.
Asisten II Pemerintah Kota Manado Atto Bulo, yang ikut mendapingi Tim TPID Sulut di Pasar Bersehati Kota Manado, berharap intervensi ini bisa mendorong harga cabai kembali normal di angka Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. “Intervensi harga ini sangat penting. Agar masyarakat bisa menerima harga yang masuk akal dan lebih penting lagi adalah kesiapan komoditas ini. Ingat masyarakat Kota Manado dikenal sebagai pengkomsumi cabai terbanyak yang di Indonesia,” ungkapnya.
Dari pantauan MANADONES sejak pagi tadi sekira pukul 06.00 WITA para pengecer sudah menjual cabai yang asal Probolinggo. Dan antusias warga yang memadati Pasar tradisional ini sangat luar biasa, alias berebutan. “Sayangnya, pembelian dibatasi,” Meini Nio Melangkai, warga Wonasa yang mengaku hanya bisa membeli 1 Kg cabai. (gracey wakary)






