Di Hulu Mahakam, BBM Satu Harga Menopang Kehidupan Warga

Arsip - Dua pegawai APMS Kompak menata selang ke mesin penyedot dan drum di atas perahu ketinting di Long Pahangai, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (21/10/2026). (ANTARA/ M Ghofar)

 

 

Bacaan Lainnya

 

 

 

SAMARINDA, 26 OKTOBER 2026 (ANTARA) – Pagi itu, warga mulai mendatangi Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) Kompak di tepi Sungai Mahakam, Long Pahangai I, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, untuk membeli bahan bakar minyak (BBM).

 

Di tepian sungai yang airnya surut, ketinting — perahu bermesin tempel yang digunakan warga untuk transportasi sehari-hari — berderet menunggu giliran. Sejumlah warga membawa jeriken kosong, sementara yang lain masih mengenakan alat pertanian di pinggang.

 

Sebagian warga datang setelah mengikuti Festival Hudoq Pekayang, perayaan masyarakat Dayak Bahau yang berlangsung selama tiga hari pada 20–22 Oktober 2026. Warga dari 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai itu perlu memastikan persediaan bahan bakar cukup untuk perjalanan pulang setelah mengikuti festival.

 

Juk Ding, warga Kampung Liu Mulang yang tinggal lebih ke hulu, datang menggunakan ketinting. Ia membawa jeriken kosong dan menunggu giliran membeli BBM. “Sepuluh liter Pertalite, cukup untuk pulang ke Liu Mulang besok, sisanya untuk ke ladang,” katanya. Bagi warga di wilayah itu, BBM tidak hanya diperlukan untuk menjalankan ketinting, tetapi juga untuk mengoperasikan mesin penggiling padi, pergi ke ladang, berburu, dan mencari ikan.

 

Musim kemarau menambah kesulitan perjalanan di Sungai Mahakam. Permukaan air yang turun membuat bebatuan dan batang kayu di dasar sungai muncul sehingga perahu berukuran besar tidak leluasa melintas. Kondisi ini turut menghambat pengiriman BBM ke wilayah hulu.

 

Kasnawi, operator APMS Kompak Long Pahangai, mengatakan pasokan tetap diupayakan melalui jalur darat ketika pengiriman lewat sungai terganggu. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah berada di APMS Kompak untuk memeriksa stok, mencatat kedatangan kiriman, dan memastikan BBM dapat disalurkan kepada warga.

 

“Meski jalur sungai yang biasanya menjadi andalan pengiriman terganggu di musim kemarau, jalur darat tetap kami andalkan untuk memastikan stok BBM tidak terputus. Warga tidak boleh kesulitan mendapat bahan bakar, apa pun kondisinya,” katanya.

Baca juga  Memperluas Lapangan Kerja Melalui Basis Kawasan

 

Di Long Pahangai, yang termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), ketersediaan BBM dengan harga yang sama seperti di daerah lain bergantung pada kelancaran distribusi. Program BBM Satu Harga yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga bertujuan memastikan warga di wilayah terpencil tidak harus membayar lebih mahal akibat biaya pengangkutan.

 

Jalan panjang BBM ke hulu Mahakam

 

Sebelum sampai ke tangan warga di hulu Mahakam, BBM menempuh perjalanan dari Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur. Truk tangki membawa bahan bakar menuju Long Bagun, pusat penyimpanan yang menjadi titik distribusi bagi wilayah sekitarnya.

 

Perjalanan sekitar 478 kilometer dari Samarinda ke Long Bagun melewati jalan yang sebagian masih berupa tanah dan pengerasan batu. Saat kemarau, lalu-lalang kendaraan menimbulkan debu tebal. Ketika musim hujan, jalan yang sama menjadi berlumpur dan licin.

 

Dari Long Bagun, BBM masih harus menempuh sekitar 160 kilometer menuju Long Pahangai. Jalur darat yang mengikuti kontur perbukitan itu membutuhkan waktu dan kehati-hatian pengemudi.

 

“Stok BBM disimpan di gudang Long Bagun. Dari sana didistribusikan ke wilayah-wilayah sekitarnya. Saat sungai surut, pengiriman dilakukan menggunakan mobil dengan kapasitas (angkut) sekitar 1.000 liter per hari. Memang volumenya jauh lebih kecil dibandingkan saat menggunakan jalur sungai, tetapi yang penting tetap datang setiap hari,” kata Kasnawi.

 

Ketika permukaan sungai memungkinkan, perahu bermesin besar dapat mengangkut 6.000 hingga 8.000 liter BBM dalam sekali perjalanan. Pengiriman melalui Sungai Mahakam menuju Long Pahangai membutuhkan waktu sekitar dua hari.

 

Saat kemarau, pengiriman beralih ke jalur darat karena perahu besar sulit melewati bagian sungai yang dangkal dan berbatu. Kendaraan darat memang mengangkut lebih sedikit BBM, tetapi memungkinkan pasokan tetap dikirim ke Long Pahangai.

 

BBM yang dijual di APMS Kompak mengikuti harga yang ditetapkan dalam program BBM Satu Harga. Pada akhir Oktober itu, biosolar dijual Rp6.800 per liter dan Pertalite Rp10.000 per liter. Harga tersebut sama dengan yang berlaku di Samarinda, tanpa tambahan biaya angkut yang dibebankan kepada warga.

Baca juga  Cak Imin di HPN 2026: Jurnalisme tak Boleh Kalah oleh Algoritma

 

Tanpa kebijakan tersebut, ongkos pengiriman melalui jalur yang panjang dan sulit dapat membuat harga BBM di pedalaman lebih mahal. Kenaikan harga akan menambah beban warga yang mengandalkan ketinting untuk bepergian dan mengangkut hasil kebun.

 

Mengatur pembelian warga

 

Di APMS Kompak, warga datang membawa jeriken dan rekomendasi dari kampung masing-masing. Sistem rekomendasi digunakan untuk mengatur pembelian berdasarkan jarak tempat tinggal dan kebutuhan perjalanan.

 

Warga dari kampung terdekat mendapat jatah sekitar 5–10 liter. Warga dari jarak menengah memperoleh 10–20 liter, sedangkan warga dari kampung yang lebih jauh mendapat jatah 20 liter atau lebih. “Semua kami sesuaikan dengan jarak tempuh dan kebutuhan mereka, agar tidak ada yang merasa dirugikan,” kata Kasnawi.

 

Huvat Buvang, warga Kampung Long Tuyoq, datang bersama istri dan anak lelakinya. Ia membeli 15 liter Pertalite untuk perjalanan pulang dan kebutuhan di ladang padi yang baru selesai ditanami. Setelah mengisi jeriken, Huvat mengangkatnya ke ketinting. Ia kemudian menyalakan mesin dan meninggalkan APMS untuk melanjutkan perjalanan.

 

Setiap hari selama musim kemarau, sekitar 1.000 liter BBM dikirim dengan mobil ke Long Pahangai I. Dari titik tersebut, BBM diangkut menggunakan perahu menuju APMS Kompak. Jika stok dari Long Bagun memungkinkan, jumlah kiriman dapat mencapai 1.200 liter.

 

Menurut Kasnawi, pasokan itu bisa habis terjual dalam sehari. BBM tersebut melayani ratusan warga dari sejumlah kampung yang tersebar di Kecamatan Long Pahangai. Bagi warga di hulu Mahakam seperti Juk Ding dan Huvat Buvang, pasokan BBM dengan harga yang sama seperti di Samarinda menopang kehidupan mereka.

 

Oleh M.Ghofar

Editor : Anton Santoso

Yuk! baca berita menarik lainnya dari Manadones di saluran WHATSAPP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *