JAKARTA, 28 OKTOBER 2026 — PT Bank CIMB Niaga Tbk (IDX: BNGA) membukukan laba sebelum pajak konsolidasian (unaudited) sebesar Rp5,8 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26).
Dari capaian tersebut, perseroan mencatatkan imbal hasil saham atau earnings per share (EPS) sebesar Rp178,65. Total aset konsolidasian bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia ini tumbuh 4,2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp384,8 triliun per 30 September 2026.
Pertumbuhan aset tersebut disokong oleh kenaikan total penyaluran kredit/pembiayaan sebesar 6,7 persen YoY menjadi Rp242,6 triliun dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) menjadi Rp273,7 triliun. Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan menjelaskan bahwa perseroan tetap mampu menjaga kinerja yang stabil di tengah dinamika ekonomi yang penuh tantangan.
Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPoP) tercatat stabil sebesar Rp8,2 triliun, didorong oleh pertumbuhan pendapatan non-bunga yang naik 7,8 persen YoY. “Meskipun profitabilitas menghadapi tantangan karena tekanan margin bunga dan peningkatan pencadangan sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian, kami tetap mampu menjaga kondisi keuangan yang solid. Posisi permodalan dan likuiditas CIMB Niaga tetap baik dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 23,7 persen,” ujar Lani dalam siaran pers yang diterima MANADONES siang tadi.
Selain CAR yang kokoh di 23,7 persen, CIMB Niaga juga mengelola likuiditas secara ketat dengan loan to deposit ratio (LDR) berada di posisi 87,7 persen. Pertumbuhan penyaluran kredit terutama disokong oleh segmen Perbankan Korporasi yang melonjak 15,1 persen YoY, diikuti Perbankan Komersial yang tumbuh 6,4 persen YoY, serta Usaha Menengah dan Kecil (UMKM) yang naik 1,9 persen YoY.(graceywakary)






