JAKARTA, 21 AGUSTUS 2026 (ANTARA) – Kementerian Pariwisata merilis data bertajuk “Infografis Statistik Pariwisata 2025” yang mencakup 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan tiga Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR) untuk mendukung pembangunan pariwisata yang berdaya saing.
“Pembangunan pariwisata yang efektif dan berdaya saing tinggi harus didasarkan pada data yang akurat, lengkap, dan terkini. Data statistik adalah navigasi utama agar setiap rupiah dapat memberikan dampak yang terukur bagi perekonomian masyarakat,” kata Sekretaris Kemenpar Bayu Aji dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Bayu Aji menyampaikan penyusunan data tersebut melibatkan sejumlah kementerian/lembaga yang diharapkan bisa menjadi rujukan bagi berbagai pihak dalam merancang pembangunan pariwisata yang semakin efektif, berdampak, dan berdaya saing, sekaligus menyediakan data statistik sektoral yang menggambarkan perkembangan berbagai indikator pariwisata di destinasi prioritas.
Pembuatan infografis statistik pariwisata disusun oleh Biro Data dan Sistem Informasi Kementerian Pariwisata melalui kolaborasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Sebanyak 10 DPP yang tercakup dalam publikasi tersebut meliputi Danau Toba, Borobudur-Yogyakarta-Prambanan, Lombok-Gili Tramena, Labuan Bajo, Manado-Likupang, Wakatobi, Raja Ampat, Bromo-Tengger-Semeru, Bangka Belitung, dan Morotai. Sementara tiga DPR meliputi Bali, Greater Jakarta, dan Kepulauan Riau.
Terdapat delapan indikator statistik yang disajikan, meliputi jumlah kunjungan dan rata-rata lama kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara, realisasi investasi pariwisata, jumlah tenaga kerja pariwisata, Produk Domestik Regional Bruto sektor akomodasi serta makan dan minum (PDRB akmamin), profil usaha akomodasi dan makan minum, serta profil usaha Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) komersial.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai skala aktivitas pariwisata dan kontribusinya terhadap perekonomian di berbagai destinasi. Dia mencontohkan di Bali yang menjadi salah satu DPR, jumlah kunjungan wisman pada 2025 mencapai 7,04 juta dengan rata-rata lama tinggal 9,04 malam. Pada periode yang sama, realisasi investasi pariwisata di Bali tercatat mencapai Rp16,05 triliun.
Sementara di DPR Greater Jakarta, realisasi investasi pariwisata mencapai Rp23,74 triliun dengan jumlah kunjungan wisatawan nusantara mencapai 293 juta. Aktivitas wisata yang kuat juga terlihat di sejumlah destinasi prioritas. Di Borobudur-Yogyakarta-Prambanan, jumlah kunjungan wisatawan nusantara tercatat mencapai 56,19 juta, sedangkan di Bromo-Tengger-Semeru mencapai 50,89 juta kunjungan.
Dia melanjutkan penyusunan publikasi statistik melalui kolaborasi lintas sektor tersebut sekaligus mencerminkan komitmen pemerintah dalam mengimplementasikan Satu Data Indonesia (SDI) dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan statistik sektoral.
Diharapkan dengan adanya standarisasi data yang sama, pemerintah pusat hingga daerah dapat memiliki rujukan yang sama dalam menyusun perencanaan, menentukan prioritas program, serta mengukur dampak pembangunan pariwisata terhadap masyarakat dan perekonomian daerah. “Kolaborasi ini memastikan bahwa data yang disajikan memiliki standardisasi dan menjadi rujukan bersama bagi pemangku kepentingan di tingkat pusat maupun daerah,” ujar Bayu.
Oleh Hreeloita Dharma Shanti
Editor : Maria Rosari Dwi Putri





