MANADO, 2 SEPTEMBER 2026 — Inflasi pada Bulan September yang mencapai angka 3,53 persen, wajib diwaspdai oleh Pemerintah dan masyarakat Sulawesi utara (Sulut).
Menurut Prof. Joy Elly Tulung, SE., M.Sc., Ph.D, inflasi untuk bulan ke bulan atau (mtm) pada September, adalah sinyal peringatan dini.
“Angka 3,53 persen ini adalah alarm keras bagi perekonomian daerah. Tekanan utama datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang melonjak hingga 9,85 persen, di mana komoditas cabai rawit menyumbang andil terbesar sebesar 1,84 poin persentase,” ujar Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), dalam bidang kepakaran Manajemen Keuangan, Tata Kelola Perusahaan, serta Perbankan dan Lembaga Keuangan, saat dihubungi MANADONES.

Dia juga menjelaskan, lonjakan inflasi ini bukan dipicu oleh konsumsi masyarakat yang berlebihan, melainkan akibat gangguan pasokan. Dimana, dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut tercatat adanya penurunan produksi komoditas hortikultura, akibat kemarau panjang, serta berkurangnya hasil tangkapan nelayan.
Kondisi ini, dikhawatirkan memukul daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan menengah dan bawah, sebut Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Manado ini. Dia juga melihat adanya potensi risiko ekonomi berpotensi membengkak jelang periode Natal dan Tahun Baru akibat lonjakan permintaan musiman.
“Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Bank Indonesia, dan pemerintah daerah untuk tidak hanya mengandalkan operasi pasar, melainkan membenahi sektor hulu,” sebut Master of Science (MSc) in International Business and Management dari University of Groningen, Belanda ini.
Prof Joy kemudian mengurai langkah strategis yang diperlukan meliputi pemetaan produksi, penguatan rantai distribusi, kerja sama antardaerah, serta penerapan sistem peringatan dini komoditas guna menjaga stabilitas harga pangan yang adil bagi konsumen maupun produsen.
Sementara dari pantauan MANADONES, komoditas cabai rawit masih mendapat perhatian serius, karena hingga pekan pertama Oktober ini, angkanya masih belum stabil untuk pasaran, walau TPID telah membawa pasokan cabai rawit dari Probolinggo, demi menstabilkan harga. (gracey wakary)




